Rabu, 13 Januari 2016

Tahun Baru 2016


Kalo sebelumnya di tahun 2015 gue udah ngerasa tahun paling buruk dari tahun-tahun sebelumnya, ternyata baru beberapa hari di tahun 2016 ini gue juga ngalamin hal menyedihkan seperti di tahun-tahun yang lalu.


======================================================== #pertama



MERAYAKAN TAHUN BARU DAN LIBUR PANJANG TANPA DITEMANI SEORANG KEKASIH



Terbiasa hidup berdampingn, dan tiba-tiba harus berjauhan mungkin bukan masalah yang mudah untuk di hadapi. Baru di awal Tahun 2016 ini gue sudah di hadapkan pada situasi yang kurang mengenakkan. Sebut saja VIDI (nama yang gue samarkan) Dimana gue harus jauh dengan vidi selama masa liburan ini. Gue nggak bisa ngebayangin sebelumnya, hari-hari gue yang selalu melihat vidi dan akhirnya pun harus kesepian di awal tahun, bahkan malam tahun baru pun harus gue rayain tanpa kehadiran vidi. Sore itu tepatnya di hari rabu.



"Sayang besok kamis pagi vidi mau pulang, kan kuliahnya udah libur"



Ucap vidi melalui pesan singkatnya, vidi termasuk cew paling cuek dari deretan mantan gue yang sebelumnya. Dan sebenernya ini pertama kalinya gue dapat pacar yang cuek. tapi cinta mungkin udah membuat gue pasrah, nggak peduli cuek nggk peduli pendek, nggak peduli suka ngamuk yang penting gue sayang.



"Hahhh!, nggak bisa hari jumat apa..?!"



Jawab singkat gue, Gilak ini cew, nggak tau gue udah nyiapin momen buat tahun baruan apa! gue ngebatin dengan perasaan cemas.

Gimana nggak cemas, malam tahun baru dan libur panjang merupakan momen kesempatan anak kos buat seneng-seneng sama pasangan. Tapi kenyataannya malah vidi pulang ke kampungnya.




"Nggak bisa loh!, pokonya besok mau pulang!"



Jawab vidi dengan nada sedikit keras, mungkin dia sedikit lapar, maklum anak kos. Kadang telat makan. Apalagi waktu itu tepat tanggal 30, tanggal dimana anak kos lebih merindukan orangtua dibanding pacarnya. Dan guepun berfikir kalo dia pasti memang sedang merindukan bokap nyokapnya.



"Tap, tap...! Tapi malam jumat kan malam tahun baru loh sayank :("



Jawab gue dengan lirih sembari memohon dengan menambahkan imotion sedih di ujung pesan, gue harap vidi mengurungkan niatnya dan pulang hari jumat tepat tanggal 1, stidaknya malam tahun baru kita bisa bersama-sama jalan bareng sambil nyalain mercon banting.



"Bapak besok yang jemput"



Balas vidi singkat, kebetulan hari kamis bokap vidi libur kerja dan gue pun tau kalo bokapnya memang libur kerja. Karna sebelum kenal vidi, gue lebih kenal baik dan akrap dengan bokapnya. Jadi vidi mungkin benar kalo dia memang di jemput bokapnya.



"Ya, ya udah deh :("


Jawab gue sedih, karna malam tahun baru bakal gue jalanin tanpa vidi.


Dan karna harus pulang besok pagi, siang itu pun gue minta agar malam nantik ketemuan sebelum dia paginya pulang.

Gue pun lebih murung di kamar kefikiran vidi yang besok pagi harus pulang dan balik ke kosnya pun entah kapan, sebenernya gue lebih baperan kalo urusan hati, maklum sejak SMA sudah jauh dari perhatian ibunda. Jadi wajar saja kalo gue juga takut jauh dari perhatian kekasih.

Dengan perasaan saling merindukan malam itu kita sepakat ketemuan.



kebetulan kos kita bersebelahan dan hanya terhalang dinding saja, jadi gue minta vidi supaya tampil apa adanya dan nggak perlu dandan menor, meskipun kos kita sebelahan, tapi gue sangat jarang ketemuan, jadi hubungan gue dan vidi lebih terasa manis dan tentu tidak membosankan. Biasanya kita selalu ketemuan malam sabtu dan dia pun tampil menor dengan clana jeans ketat dan kaos lengan panjang, yang sebenernya gue nggak begitu suka. Karna penampilan yang menunjukan segala lekuk tubuh seorang wanita sangat mengundang kemaksiatan, gue sebagai cow yang di besarkan oleh kluarga baik-baik tentu lebih suka penampilan wanita yang lebih anggun. Jangankan yang begituan, dicium cew aja gue seperti kehilangan keperjakaan.


Tepat jam 8 malam diapun kluar di samping halaman rumah, gue tercengang liat penampilan vidi, dia hanya memakai baju tidur yang nggemesin dan jilbab lembut yang sederhana, kecantikannya pun terlihat sangat natural. Meskipun penampilannya yang natural tapi tetap saja gue nggak bisa mencium bau kringatnya yang "konon" (jangan di balik) sangat gue impikan. Seperti merindukan bau kringat seorang ibu yang peluh saat bekerja di rumah demi anaknya. Tapi Untuk urusan parfum, vidi seperti pemakai narkoba kelas kakap, tanpa parfum mungkin dia bakal sakau dan ngedown di depan gue.


Karna besok vidi bakal pulang pagi gue pun berfikir vidi pasti sangat merindukan gue. dengan pakaian baju tdur nggak lama kemudian dia pasti ngajak gue ke kamar kosnya. Batin gue menggerutu.



"Hey vidi, kamu cantik banget malam ini, natural"

Sapa gue sambil ngeliat vidi dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Maaf kamu siapa, kita kenal ya?"
Jawab vidi sambil senyum-senyum sambil benerin jilbabnya. Padahal jilbabnya si nggakpapa,

" Kenapa nggak dari dulu kamu temuin aku dengan penampilan seperti ini"

Balas gue dengan senyum, gue dari dulu emang paling suka liat cew simpel yang nggak rumit dengan masalah fasion. Dan setiap kali mau ketemuan guepun selalu minta supaya vidi berpenampilan sederhana dan simpel. Tapi diapun nggak pernah nurutin, gue sadar dia mungkin ingin menunjukan keistimewaannya di depan orang yang di sayanginya, ingin selalu tampil sempurna di hadapan orang yang di cintainya. Dan guepun memahami dan menghargai apa yang menjadi pilihannya.


"kalo sayang kesepian di kos, besok ikut vidi aja pulang sekalian liburan"

Ungkap vidi dengan menatap serius, mata sedikit berbinar seolah takut berlama-lama harus jauhan.

Belum sempat gue jawab, terbesit di fikiran gue, bokap nyokap vidi orang yang sibuk dan jarang di rumah, kalo seandainya gue ikut liburan kerumah vidi, mungkin kita bakal hari-hari dihadapkan situasi berdua antara aku dengan vidi, ini situasi yang sulit gue hadapin.

Gue takut situasinya bakal kaya di filem-filem FTV, dimana rizki aditya dengan monalisa di rumah berdua, ketika bokap nyokap monaliza sedang di luar. Saat rizky sedang duduk di sofa tiba-tiba monaliza menghampiri rizky dan menutup mata rizky dari belakang, ketika situasi makin memanas dan rizky yang cenderung pemalu, persis seperti gue. Ketika itu lah monaliza menghabisi rizky di soffa tepat di depan TV. Merekapun saling emmmm...*sensor*. Guepun takut hal ini menimpa gue.


"nantik ya sayaank aku fikirin dulu, soalnya tugas di kampus belum kelar"

Jawab gue sambil megang erat tangan vidi, vidi pun semakin baper. Dia sedikit pemalu dan tertutup. Jadi dia lebih terlihat tegar, kesedihannya pun ia tutupi dengan rapi. Begitu juga dengan gue yang sesekali meremas tangan vidi, diapun membalas meremasnya, gue dan vidi pun saling menunjukan kerinduannya sesaat sebelum berpisah.

Malam semakin larut, hampir jam 10, nggak terasa hampir 2 jam aku dan vidi berdua di samping kos, membicarakan hal-hal yang kita khayalkan dimasa depan. Mengingat umur vidi yang jauh lebih muda 4 tahun dari gue, gue pun enggan membicarakan hal-hal yang lebih jauh. Gue takut vidi nantinya risih. Gue lebih memberi dia ke bebasan, dalam arti semua urusan hati dan yang akan terjadi nanti gue serahin ke tuhan, gue hanya bisa berdoa dan berusaha. Agar tempat gue dihatinya tetap dijaga dengan tulus, begitu juga sebaliknya


"Sayang udah malam nih, aku pulang ya, o'ya besok aku antar ke pelabuhan"

Cetus gue sesaat dengan sedikit melemahkan tangan, genggaman vidipun terlepas, gue pun baper terbawa suasana. Vidi pun sedikit kaget dan gugup, seolah 2 jam terasa sangat singkat, tidak sebanding dengan kesendirian yang bakal vidi dan gue alami ketika vidi berada di rumahnya nanti.


"Ya udah sayang pulang sana"

Jawab vidi dengan nada lirih sedikit senyuman, suasana semakin baper, mata vidi pun berbinar-binar, seolah hujan akan segera turun. namun gue tau sebenernya apa yang ada di hati vidi. Tak lain dan tak bukan pasti seneng karna besok pulang. Arghhh bangke!

Dia pun berdiri di depan pintu, gue pun beranjak pulang, namun baru berjalan 3 langkah, tiba-tiba gue berhenti. gue merasa ada yang kurang dari pertemuan malam ini, mengingat besok dia akan pergi dengan waktu yang lama, gue pun kembali mendekati vidi.

Gue kembali teringat adegan perpisahan rizki aditya dengan monalisa dalam filem FTV saat mereka harus berpisah, tepat posisinya seperti apa yang gue lakuin, rizki adtya di depan pintu dan monalisa tepat didepanya, tidak lama kemudian bibir rizki aditya mendarat tepat di bibir monalisa. Mereka pun menghabiskan sisa waktu mereka sesaat sebelum berpisah dengan emm.... *sensor*

Gue pun nglakuin hal yang sama persis seperti apa yang aditya lakuin, malahan gue nambahin dengan adegan mengimut-imutkan wajah gue yang sebenernya emang nggak ada imut-imutnya. Argghhh bangke!


"Ciumnya mana..? ;)"

Cetus gue sambil merem, berharap dia segera mendaratkan bibirnya di pipi gue. Dia pun sesaat mendaratkan tepat di kening gue, tapi rasanya gak lebih seperti hanya telapak tangan yang di sentuhkan di jidat gue, dan nggak salah lagi, sialnya dia cuman pegang jidat gue dengan tangan kanannya.


"Nggak ada!!!"

Jawab vidia dengan nada sedikit jutek, sedikit mundur sembari memoleskan telapak tangannya di jidat gue.

Meskipun begitu, gue tipe cow yang selalu berusaha dan pantang. Menyerah, gue berfikir KOG GINI AMAT SUSAHNYA CARI RIZKI. Dan ketika dia sedikit berpaling pandangan, dengan gerakan lincah, terencana, terstruktur dan terorganisir.


"Mmuach! Cinta dewasa tau kapan harus kembali tanpa harus dicari"

Bisik gue sambil mendaratkan Bibir gue di pipi kiri vidia, Diapun sesaat kaget dengan di iringi senyum manis dan segera beranjak menutup pintu kosnya. Akhirnya gue dan widiapun sepakat berpisah selama waktu liburan.

Sementara itu hari-hari selanjutnya gue jalani dengan begitu damai, gue percaya dia akan baik-baik saja disana. Dan vidipun percaya kalo gue akan tetap menjaga tempatnya baik-baik di hati gue.

Cinta itu bukan hanya soal kebersamaan, tapi kita harus belajar menerima saat kita harus saling berjauhan. Bebaskan pasangan kalian, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan.

Merpati yang terbang jauh tetap akan kembali pada pasangan dan kluarganya Dan tidak akan salah.

#kedua

MERINDUKAN SOSOK IBUNDA TERCINTA
Tidak mudah untuk menjalani hidup tanpa disisi kedua orang tua, apa lagi gue sebagai anak bungsu yang tentunya sangat membutuhkan kasih sayang dari mereka. Begitu juga kedua orang tua gue yang pastinya sangat merindukan gue.

Lima tahun sudah gue menjalani hidup di perantauan, berjuang keras berusaha mandiri, berusaha untuk tidak mengatakan ketidak mampuan gue saat jauh dari kluarga. Yahh!. Gue dewasa, mandiri! Mata gue pun berbinar saat menulis kalimat ini.

Gue lima bersaudara, empat dari saudara gue telah membina rumah tangga, dan tragisnya mereka juga hidup di luar kota dan jauh dari orang tua. Lantas kenapa mereka memilih hidup jauh dari orang tua...? Mungkin kakak gue satu-satunya cewek memang harus mengikuti suaminya yang bekerja di luar kota. Lantas bagaimana dengan 3 abang-abng gue...? Kenapa mereka harus hidup jauh dari orang tua juga..? Apa karna takut dengan istrinya...? Berbagai pertanyaan pun tersirat di benak gue. Namun ada pertanyaan yang sangat menyentuh hati gue, yang sampai saat ini menyelimuti kegundahan hati gue.


"Apa Mungkin kedua orangtua gue tidak menginginkan gue untuk selalu dekat dan saling bercengkrama layaknya sebuah kluarga...?"
"Kenapa aku harus di sekolahkan di riau..?" Kenapa Nggak di lampung saja, mungkin labih bagus, lebih modern, atau jawa yang lebih bagus, kenapa mesti di riau...?"

Binar mata gue seketika pecah, air mata pun tak henti-hentinya menetes. Timbul keinginan-keingin yang sangat gue damba-dambakan. Tak lain dan tak bukan, gue hanya ingin hidup berkumpul bersama kluarga, melepas kerinduan yang nyaris tak terbendung lagi..

-rindu bangun pagi dengan di iringi senyum manis dari sosok ibunda
-rindu makan malam dengan masakan sederhana yang lezat yang sudah lama tidak gue rasakan.
-rindu mendengar ocehan ibunda saat gue pulang kemalaman karna main game bareng temen-temen.

Bahkan saking rindunya gue pun lebih akrap dengan bapak atau ibu yang gue temuin di sekitaran kos gue. gue lebih menganggap bahwa mereka mungkin juga bagian dari apa yang tuhan rencanakan, yakni ibu dan bapak sementara saat gue jauh dari kluarga. Bahkan kerinduan gue dengan sosok ibunda pun terbawa dalam hubungan gue dan vidi, hanya saja ketika gue ingin peluk atau sekedar minta cium kening untuk melepas kerinduan gue terhadap orang tua, vidi selalu menolak. Argh gk enak!!!

Mungkin di luaran sana juga banyak yang ngalamin hal seperti apa yang gue alami, beberapa kejadian-kejadian yang sangat klasik dan krusial, yang setiap momen kecil tapi membuat kita ingat dengan orang tua. misalnya saja saat kita makan-makan bareng temen, belum sempat makan tapi udah ingat ortu di kampung, mereka sudah makan atau belum, makan pakai apa hari ini, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang pasti klin juga bakal ngalamin hal yang sama seperti apa yang gue rasakan.

Sebagai anak kos tentu kerinduan gue pun semakin bermunculan, sakitnya pun melibatkan hati dan perasaan. Misalnya di tanggal-tanggal tua, disitulah kerinduan gue memuncak, gue pun sangat merindukan dan menantikan sms dari ortu

"nak ATMnya udah di cek belum.?"

Namun di balik kata rindu yang gue gadang-gadangkan, timbul pertanyaan yang membuat gue sadar,


"Apa yang bisa gue lakuin ketika ortu merindukan gue..?"

Gue sadar, keegoisan yang gue rasain hanya bisa menuntut apa yang gue inginkan dengan orang tua dan tidak lantas gue bisa memberikan apa yang orang tua inginkan.

Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan kebersamaan. Mereka tau cara mendidikmu untuk memantaskan diri, menghadapi dunia yang mungkin lebih keras dari jaman yang mereka alami dulu.

Mereka tau kapan harus bersenang-senang bersama, tanpa mengorbankan masa depanmu

Mereka bisa memberimu dengan tanpa pamrih, sedang kamu hanya meminta

Mereka yang melahirkanmu ke dunia, merekalah yang mendidikmu untuk bisa tetap hidup dengn tanpa menyusahkan orang lain


2 komentar: